fbpx

Poin utama dalam parenting adalah komunikasi dengan anak. Rutinitas keseharian anak merupakan titik mula mereka dalam mengenali dunia sekitar. Peran orang tua sangat penting untuk memberikan pembelajaran melalui interaksi sehari – hari dengan anak. Hal ini dapat dilakukan dengan cara berbicara dan mendengarkan.

Mama dapat melakukan komunikasi dengan anak mengenai berbagai hal. Tidak hanya mengenai permasalahan serius, namun juga tentang hal – hal sederhana seperti “Tadi di sekolah ngapain aja?” atau “Hari ini mau dimasakin apa?” Percakapan dan pemberian perhatian secara rutin inilah yang dapat meningkatkan kedekatan hubungan Mama dan anak.

Pentingnya Komunikasi dengan Anak

Dilansir dari Extension, University of Missouri, hubungan paling baik antara orang tua dan anak dilandasi oleh komunikasi dan interaksi positif. Komunikasi dengan anak yang dilakukan secara positif sejak kecil, dapat memudahkan Mama dan Papa untuk menjaga kerekatan hubungan hingga anak beranjak dewasa nantinya. Komunikasi dengan anak juga dapat membangun sifat percaya diri dan saling menghargai, serta dapat membuat anak merasa dicintai. Selain itu, membangun komunikasi dengan anak dapat membantunya menemukan jati diri.

Tips Membangun Komunikasi dengan Anak

1.      Menjadi Pendengar yang Baik

Kosakata anak – anak pada usia belia masih sangat terbatas sehingga mungkin masih mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan lancar. Penting bagi Mama untuk berusaha menjadi pendengar yang baik, memberikan waktu bagi si kecil menyampaikan keinginannya, menjawab pertanyaan si kecil dengan kalimat yang mudah dipahami, dan bersikap sabar dengan menatap mata anak ketika ia sedang berbicara, serta menghindari perilaku seperti menghela nafas dan berdecak. Hal – hal ini dapat menumbuhkan keberanian dan kepercayaan diri si kecil.

2.      Membangun Kepercayaan Diri pada Anak

Hal ini dapat ditunjukkan Mama dengan cara membiarkan anak tahu bahwa Mama tertarik dan ingin terlibat dalam ceritanya, memberikan kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi dan melakukan hal – hal yang menarik hati mereka.

3.      Memberikan Kalimat – Kalimat Positif

Mama dapat mencontohkan dan mengajarkan three magic words pada anak setiap ia beraktivitas. Kata – kata ini memang sederhana, namun sangat krusial yaitu “Tolong”, “Maaf”, dan “Terima kasih”. Memberikan kalimat pujian untuk hal – hal baik yang dilakukan si kecil, seperti ketika membereskan tempat tidur, menghabiskan makanannya, atau membantu Mama. Dilansir dari Better Health Channel, Mama perlu mengapresiasi usaha anak, tidak hanya hasil baiknya. Hal ini bertujuan untuk mengajarkan anak bahwa kegagalan itu hal yang normal.

4.      Memberikan Respon Terhadap Perilaku Anak

Mama sebaiknya memberikan respon terhadap perilaku atau perkataan anak dengan segera sehingga dapat tercipta komunikasi 2 arah dengan topik bahasan yang lebih luas.

5.      Berkomunikasi dengan Bahasa Tubuh

Usahakan untuk menggunakan intonasi halus, menjaga kontak mata dan selalu tersenyum, Mama juga perlu berjongkok untuk menyamakan tinggi ketika berkomunikasi dengan si kecil.

6.      Membantu Pemecahan Masalah Anak

Saat anak menceritakan permasalahannya, usahakan untuk menahan bentuk kalimat yang mengandung kritik dan interupsi. Setelah itu, Mama bisa membantu merencanakan solusi – solusi terhadap permasalahan tersebut.

7.      Meluangkan Waktu bagi Anak

Memusatkan perhatian ketika berkomunikasi dengan anak sangat diperlukan. Mematikan televisi, menutup koran, atau meletakkan smartphone dapat membuat anak merasa penting dan dihargai. Mama dapat meluangkan waktu untuk bermain dengan anak. Biarkan si kecil memimpin dan memiliki kontrol terhadap permainan.

Membangun Komunikasi Berdasarkan Perkembangan Usia Anak

Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan usia si kecil, daya tangkap dan kemampuan komunikasinya akan semakin meningkat. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang berbeda untuk menciptakan komunikasi yang lebih efektif dan efisien antara orang tua dan anak. 

  1. Bayi Baru Lahir hingga Usia 12 Bulan

Mama perlu mengingat bahwa kemampuan komunikasi bayi sangatlah terbatas, seperti melalui rintihan, erangan, tangisan, ekspresi wajah, serta gerakan tubuh. Oleh karena itu, sangat penting untuk Mama mendukung upaya bayi dalam berkomunikasi.

  • Memberikan respon terhadap komunikasi bayi dengan cepat dan tanggap;
  • Menerjemahkan upaya komunikasi bayi secara lisan, misalnya “Wahh, adek ketawa terus nih, lagi seneng ya habis diajak main?” atau “Sayangnya Mama kok nangis, laper yaa?”; 
  • Menarik perhatian bayi dengan menyanyikan lagu, berbicara dengan nada tinggi yang ceria, dan memaksimalkan ekspresi wajah; 
  • Memperhatikan dan mengenali kepribadian anak dalam mengekspresikan perasaannya.
  1. Anak Usia 12 – 36 Bulan
  • Memperluas kosa kata anak dan menyusun kalimat dengan benda – benda biasa ditemui sehari – hari;
  • Memberikan satu arahan dalam satu waktu, misalnya “Yuk, dipakai dulu sepatunya sebelum kita berangkat.”
  • Mengenalkan macam – macam emosi pada anak dan memvalidasi emosi tersebut, misalnya “Adek sedih karena habis jatuh ya? Iya, Mama tau adek sakit ya?” 
  • Memberikan penjelasan terhadap setiap hal yang dilakukan anak selama bermain, misalnya “Adek lagi nyusun lego, mau bikin apa nih? Ohh, bikin rumah ya?”
  1. Anak Usia DIni (3 – 6 Tahun)

Pada usia ini, anak sudah mulai berbicara dan menceritakan pengalamannya dengan kalimat dan tata bahasa yang sesuai.

  •  Memberikan pertanyaan seputar peristiwa yang mereka alami pada hari itu;
  • Menyisipkan kata – kata baru dalam setiap percakapan dan cerita anak;
  • Mendorong anak untuk berbicara dengan melibatkan emosi yang sedang mereka rasakan;
  • Memberikan kesempatan pada anak untuk menciptakan dunia fantasinya sendiri agar kreativitasnya berkembang;
  • Mendorong anak untuk menghubungkan kalimat yang diucapkan melalui lisan dengan tulisan, misalnya dengan cara membiarkan anak menulis ceritanya, memberikan label pada benda – benda sekitar, dan sebagainya;
  1. Anak Usia Sekolah (6 – 12 Tahun)

Anak usia sekolah telah mampu berkomunikasi dengan kalimat runut yang lengkap dan tata bahasa yang benar. Pada usia ini, rasa ingin tahunya sangat tinggi, sehingga anak kerap bertanya dan meminta penjelasan terkait peristiwa – peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Selain itu, anak juga lebih sering menghabiskan waktu untuk berbicara dan bermain dengan teman – teman sebayanya.

  • Mama bisa memantau aktivitas, kegemaran, serta hubungan anak dengan teman sebayanya. Hal ini dilakukan dengan cara menginisiasi obrolan ringan secara rutin;
  • Membantu anak menemukan tujuan dan mimpi mereka;
  • Membantu menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada anak dengan cara berdiskusi dan memberikan penjelasan terkait sebab – akibat pada tiap solusinya;
  • Memperbaiki kesalahan perilaku anak dengan tenang dan memberikan pengertian tentang dampak negatif yang mungkin akan terjadi;
  • Minta waktu pada untuk mencari jawaban yang tepat apabila Mama tidak berhasil menjawab pertanyaannya.

Ternyata banyak ya jenis pendekatan yang dapat dilakukan untuk membangun komunikasi dengan anak. Semoga tips – tips di atas dapat diterapkan Mama sehingga kualitas komunikasi dengan anak dapat meningkat. Selamat mencoba ya Mama!

Writer: Khoirunnisa Purwamita

Editor: Mega Pratidina

Sources :

Communicating Effectively With Children (extension.missouri.edu)

Young Children and Communication (betterhealth.vic.gov.au)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.