fbpx

Menyusui merupakan waktu yang istimewa antara Mama dan si kecil. Sayangnya, waktu yang istimewa itu hanya berlangsung sebentar.  Mama akan berhenti menyusui di kecil saat waktunya tiba. Yuk, Ma, kita simak bersama apa yang terjadi pada ASI setelah berhenti menyusui!

Apa yang Terjadi pada ASI Setelah Berhenti Menyusui?

Ketika si kecil memasuki usia satu tahun, produksi ASI akan mulai berkurang, mengikuti kebutuhan ASI si kecil. Butuh waktu 7-10 hari untuk mengeringkan ASI setelah berhenti menyusui. Pada beberapa kasus tubuh membutuhkan waktu dua sampai tiga minggu untuk berhenti memproduksi ASI setelah berhenti menyusui. Dilansir dari Mutsy, ketika bayi berhenti menyusu, otak akan mengirimkan sinyal ke kelenjar mammae untuk mengurangi produksi ASI. Lama-kelamaan ASI akan berhenti diproduksi oleh payudara.

Namun, ada juga beberapa hal yang menyebabkan Payudara tetap mengeluarkan ASI setelah berhenti menyusui. Pertama, proses berhenti menyusui yang mendadak, sehingga sisa dari produksi ASI pada payudara Mama masih ada. Lalu, bonding dengan si kecil yang kuat dan kondisi psikologis Mama yang bagus. Kedua kondisi ini menyebabkan prolaktin tetap terproduksi karena suasana hati yang tenang dan gembira.

Bisakah Mama Menyusui Si Kecil Lagi Setelah Berhenti Menyusui?

Mama juga bisa melakukan relaktasi jika ingin kembali menyusui si kecil. Relaktasi adalah usaha untuk melancarkan kembali produksi ASI setelah berhenti menyusui. Stimulasi dapat dilakukan untuk merangsang produksi ASI setelah berhenti menyusui. 

Relaktasi biasanya memakan waktu dua minggu hingga satu bulan agar bisa kembali memproduksi ASI setelah berhenti menyusui. Hal ini juga dipengaruhi beberapa faktor seperti kondisi ibu, kondisi bayi, dan berapa lama proses menyusui si kecil terhenti.

Relaktasi juga bisa dilakukan oleh nenek yang ingin menyusui cucunya. Hal ini pernah dilakukan oleh seorang nenek yang bernama Aisha Modu yang berasal dari Nigeria. Aisha menyusui cucunya karena menggantikan putrinya yang meninggal beberapa bulan yang lalu. ASI Aisha bisa keluar namun tidak cukup untuk sang cucu. Untuk itu, Aisha pun mendapat induksi laktasi. Induksi laktasi dilakukan dengan Supplementary Suckling Technique, yaitu teknik untuk menaruh tabung kecil ke mulut bayi di samping puting. Saat bayi menyusu, proses ini mengirim sinyal ke otak untuk merangsang kembali produksi ASI setelah berhenti menyusui. Aisha yang melakukan induksi laktasi diberi hormon dan obat penambah ASI. Setelah itu, pemberian ASI dihentikan, dan hanya obat penambah ASI yang tetap diberikan hingga ASI keluar.

Tips untuk Relaktasi Kembali Setelah Berhenti Menyusui

Mama juga dapat melakukan relaktasi untuk memproduksi ASI setelah berhenti menyusui dengan beberapa cara berikut. 

  1. Mengenalkan Puting Kembali Kepada Bayi

Cara pertama adalah dengan mengenalkan kembali puting Mama kepada si kecil. Mama dapat menempelkan puting Mama sesering mungkin ke mulut si kecil. Proses ini bertujuan untuk membuat si kecil familiar kembali dengan keadaan saat sedang menyusu pada Mama dan agar pelekatan dilakukan dengan baik. 

  1. Bangun Kedekatan dengan Bayi

Mama harus membangun Kembali kedekatan Mama dengan si kecil. Hal ini dapat dilakukan dengan memeluk, memberi ciuman, serta dengan mencoba berbagai posisi menyusui dengan si kecil. Mama juga dapat melakukan skin-to-skin kembali dengan si kecil

  1. Pumping

Cara lainnya untuk memproduksi ASI setelah berhenti menyusui adalah dengan melakukan pumping. Mama bisa memompa ASI setidaknya 2-3 jam sekali atau 8-10 kali sehari. Hal ini bertujuan untuk membuat payudara terstimulasi kembali untuk memproduksi ASI setelah berhenti menyusui. Pumping dapat dimulai dengan hisapan yang pelan dan durasi yang sebentar. Setelah Mama merasa terbiasa, Mama bisa meningkatkan hisapan pada alat pumping dan memperpanjang durasinya. Lakukan juga pijatan lembut pada payudara untuk merangsang payudara memproduksi ASI setelah berhenti menyusui. 

  1. Mengosongkan Payudara Secara Rutin

ASI bisa tersedia karena adanya supply dan demand. Mama sebaiknya rutin mengosongkan payudara bila ingin membuat tubuh Mama memproduksi ASI kembali. Semakin banyak ASI yang Mama keluarkan saat pengosongan payudara, semakin banyak pula ASI yang akan diproduksi kembali. Apabila Mama tidak mengeluarkan ASI yang tersisa dalam payudara, tubuh akan menganggap ASI yang sebelumnya diproduksi berlebih, sehingga akan mengurangi produksi ASI selanjutnya.  

Setelah membaca artikel ini, apakah Mama merasakan perbedaan setelah berhenti menyusui? Atau justru tertarik untuk relaktasi? Semangat mengASIhi kembali, Ma!

Writer: Fathiya Rahmah

Editor: Mega Pratidina

Source:

Can I Still Produce Milk If Baby Is Not Breastfeeding? – Mutsy.com (mutsy.com)

Wajarkah Jika Sudah 1 Tahun Berhenti Menyusui Namun ASI Masih Keluar? (health.detik.com) 

Relactation & Bonding – Everything You Need to Know – Rookie Moms (rookiemoms.com) 

Everything You Need to Know About Relactation and Pumping | LaVie Mom (laviemom.com) 

Kisah Nenek yang Menyusui Cucunya Agar Bisa Bertahan Hidup (health.detik.com) 

9 Cara Relaktasi agar ASI Kembali Lancar Setelah Berhenti Menyusui (hellosehat.com)

Relaktasi, Cara Menyusui Kembali Setelah Sempat Berhenti – Alodokter (alodokter.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.