fbpx

Postpartum hemorrhage (PPH) adalah perdarahan vagina yang parah setelah melahirkan. Kondisi ini biasanya terjadi ketika kehilangan darah yang sangat banyak hingga lebih dari 500cc dalam 24 jam setelah melahirkan. Dilansir dari Alodokter, postpartum hemorrhage masih menjadi penyebab utama kematian pada Mama yang baru saja melahirkan. Oleh sebab itu, postpartum hemorrhage sangat serius dan berbahaya bagi Mama yang mengalaminya. Beberapa gejala penyerta dari postpartum hemorrhage adalah detak jantung yang meningkat, tekanan darah yang menurun, dan rasa nyeri di vagina. 

Terdapat 2 macam jenis PPH, yaitu yang pertama jika pendarahan terjadi dalam kurun waktu 24 jam setelah melahirkan, maka ini disebut PPH tahap awal dan jika pendarahan terjadi dalam kurun waktu beberapa hari atau beberapa minggu setelah melahirkan maka ini disebut PPH tahap ke-2 atau lanjutan. 

Lantas, apa penyebab terjadinya postpartum hemorrhage?

Penyebab Terjadinya Postpartum Hemorrhage

Melansir dari Halodoc.com, penyebab postpartum hemorrhage terbagi menjadi empat, yaitu:

  • Kekuatan otot, saat uterus tidak dapat berkontraksi yang disebut dengan atonia uteri, maka dapat menyebabkan darah keluar terus menerus dari uterus secara alamiah. Apabila darah yang keluar semakin banyak, harus segera mendapatkan pertolongan.
  • Cedera, penggunaan obat pacu persalinan yang tidak sesuai aturan dapat menyebabkan kontraksi rahim terlalu kuat sehingga robekan jalan lahir menjadi terlalu besar.
  • Jaringan, sisa jaringan plasenta yang masih menempel pada uterus bisa menyebabkan perdarahan dari jalan lahir janin.
  • Faktor pembekuan darah, Mama dengan kelainan hemofilia dapat menyebabkan kelainan perdarahan pasca melahirkan. Bila perdarahan banyak maka dapat menyebabkan hilangnya faktor-faktor yang dibutuhkan darah untuk membantu penutupan luka. 

Dilansir dari National Center for Biotechnology Information, perawatan pada Mama yang mengalami postpartum hemorrhage adalah fokus memberikan pertolongan pada pasien dengan mengidentifikasi penyebab spesifik terjadinya postpartum hemorrhage dan mengobatinya yang dilakukan secara bersamaan. Kemudian menjaga kestabilan dinamika aliran darah pasien untuk memastikan proses pengaliran darah ke organ vital.

Tindakan perawatan lainnya ketika mengalami postpartum hemorrhage

  • Melakukan pijat rahim

Proses ini biasanya dibantu oleh perawat dengan memijat perut agar otot-otot rahim menjadi lebih rileks dan kembali kuat sehingga rahim Mama bisa berkontraksi untuk menutup pembuluh darah yang terbuka karena proses terlepasnya plasenta tadi.

  • Mengonsumsi obat untuk merangsang kontraksi

Biasanya sambil terus memijat perut, dokter akan memberi obat-obatan untuk merangsang kontraksi rahim sehingga perdarahan dapat dihentikan.

  • Mengangkat jaringan plasenta yang tertinggal dari rahim Mama

Plasenta yang masih tertinggal perlu segera diangkat oleh tim medis yang akan dikeluarkan secara manual. Sebelumnya Mama akan diberi obat pereda nyeri terlebih dahulu dan prosedur ini akan dilakukan oleh dokter atau bidan terlatih.

  • Menggunakan balon kateter foley

Mengembangkan balon kateter foley yang ditempatkan di rahim dapat memberi tekanan pada pembuluh darah yang terbuka di mana bisa membantu menghentikan perdarahan untuk sementara, sampai dilakukannya tindakan lain.

  • Transfusi darah

Setelah perdarahan berhenti, pasien tentunya akan menjadi lemas. Oleh karena itu, pasien membutuhkan transfusi darah agar kondisinya menjadi lebih stabil.

Risiko lebih tinggi mengalami postpartum hemorrhage

  • Memiliki masalah plasenta seperti plasenta akreta, plasenta previa, abruptio plasenta dan retensio plasenta

Ketika plasenta Mama terlalu dalam menempel ke dinding rahim, terlepas dari dinding rahim, maupun tersisa di rahim setelah melahirkan tentu akan menyebabkan perdarahan, atau infeksi lainnya yang dapat membahayakan keselamatan jiwa Mama dan buah hati.

  • Memiliki anak kembar dua, tiga,  atau lebih dan riwayat lima atau lebih persalinan sebelumnya

Hamil kembar atau telah melakukan persalinan berkali-kali memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi seperti masalah abruptio plasenta yang memicu terjadinya postpartum hemorrhage.

  • Terlalu banyak air ketuban

Air ketuban yang terlalu banyak dapat berbahaya bagi ibu dan janin serta menimbulkan risiko perdarahan setelah melahirkan.

  • Tekanan darah tinggi

Selama kehamilan jika Mama mengalami tekanan darah tinggi, maka bisa meningkatkan risiko komplikasi seperti masalah abruptio plasenta yang dapat menyebabkan terjadinya postpartum hemorrhage.

  • Anemia

Mama yang memiliki anemia akan mudah lelah sehingga banyak membutuhkan istirahat. Mama yang mengalami postpartum hemorrhage bisa jadi juga mengalami anemia.

  • Kegemukan

Kelebihan berat badan pada Mama hamil bisa menjadi obesitas yang menyebabkan kontraktilitas uterus melemah sehingga membuat proses persalinan menjadi lebih lama yang akhirnya meningkatkan terjadinya postpartum hemorrhage.

  • Kehamilan di usia lanjut

Hal ini menjadi salah satu risiko peningkatan postpartum hemorrhage karena tergolong kehamilan yang berisiko tinggi yang dapat menyebabkan kelahiran prematur, dan masalah komplikasi persalinan.

Nah, Mam, itulah penjelasan mengenai postpartum hemorrhage yang dapat dialami setelah Mama melahirkan. Hal tersebut adalah kondisi yang serius dan berbahaya sehingga memerlukan tindakan penanganan dan perawatan yang tepat. Semoga penjelasan tersebut dapat membantu Mama, ya!

Writer: Fernika Windi

Editor: Mega Pratidina

Source:

Acute Postpartum Hemorrhage – StatPearls (ncbi.nlm.nih.gov)

Kenali Penyebab Perdarahan PostPartum yang Dapat Berakibat Kematian (alodokter.com)

Perdarahan Postpartum (halodoc.com)

Waspadai Darah Keluar Pasca Melahirkan, Bisa Jadi Postpartum Hemorrhage (PPH) (ibupedia.com)

Postpartum Hemorrhage: Causes, Risks, Diagnosis & Treatment (my.clevelandclinic.org)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.