fbpx

Source : Happy Family Organics 

Air susu ibu (ASI) memiliki berbagai kandungan senyawa yang berperan penting dalam pemenuhan nutrisi si kecil, salah satunya adalah zat besi (Fe). Kadar kandungan zat besi pada ASI sebenarnya  cukup rendah, namun bayi juga memiliki cadangan zat besi yang tersimpan dalam tubuh sebagai pelengkapnya. 

Oleh karena itu, dilansir dari Jurnal Antioxidants, kebutuhan zat besi untuk bayi tetap terpenuhi hingga usia empat sampai enam bulan. Setelahnya, bayi bisa mendapatkan asupan zat besi dari sumber makanan pendamping lainnya, seperti makanan kaya zat besi, sereal yang telah diperkaya zat besi, dan suplemen zat besi. 

Sebenarnya seberapa pentingkah kandungan zat besi pada ASI? Apakah bayi membutuhkan sumber zat besi lainnya selain ASI? Yuk, simak informasinya di bawah ini!

Manfaat Zat Besi pada ASI

Zat besi pada ASI untuk bayi berperan untuk memproduksi hemoglobin. Hemoglobin ini penting dalam proses pengangkutan oksigen dalam sel darah merah untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Selain itu, zat besi pada ASI mendukung perkembangan sistem saraf selama masa bayi hingga anak berusia dini.

Asupan zat besi yang cukup dalam tubuh dapat membantu mencegah terjadinya  anemia akibat kekurangan zat besi. Anemia merupakan suatu kondisi rendahnya jumlah sel darah merah dalam tubuh sehingga kemampuannya dalam mengangkut oksigen juga berkurang. Anemia pada anak biasanya disebabkan karena kurangnya asupan makanan dan suplemen yang mengandung zat besi.

Zat besi juga diperlukan untuk menunjang tumbuh kembang dan mendukung kemampuan pembelajaran si kecil. Salah satu cara untuk memenuhi asupan zat besi adalah dengan memastikan adanya kandungan zat lain yang dapat membantu mengoptimalkan kerja zat besi, yaitu vitamin C.  Selain itu, vitamin C juga berfungsi untuk membantu proses penyerapan zat besi dalam tubuh.

Dampak Kekurangan Zat Besi pada Bayi

Zat besi berperan penting dalam pembentukan selaput saraf pada otak sehingga sangat krusial dalam proses tumbuh kembang anak. DIlansir dari Alodokter, bayi yang kekurangan zat besi berisiko mengalami gangguan pada kecerdasan, perilaku, dan kemampuan ototnya. Kekurangan zat besi juga menyebabkan bayi rentan terkena infeksi dan keracunan timbal. 

Oleh karena itu, Mama dapat mengoptimalkan pemberian zat besi pada bayi melalui ASI. Pemberian ASI yang optimal dapat mencegah terjadinya stunting pada bayi, yaitu gangguan tumbuh kembang bayi akibat malnutrisi (kesalahan nutrisi), baik itu kekurangan maupun kelebihan nutrisi

Berapa Banyak Zat Besi yang Dibutuhkan Bayi?

Zat besi sangat dibutuhkan bayi dalam setiap tahap perkembangannya. Tiap bayi memiliki kebutuhan zat besi yang berbeda – beda tergantung pada jenis konsumsinya. 

Bayi yang hanya mengonsumsi ASI eksklusif telah mendapatkan asupan zat besi dari ASI hingga usia 6 bulan. Namun, Mama tetap perlu untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah bayi tetap memerlukan tambahan suplemen sebelum berusia 6 bulan. 

Setelah bayi mulai mengonsumsi makanan pendamping, Mama dianjurkan untuk mulai mengenalkan makanan kaya zat besi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi si kecil.

Penyebab Kekurangan Kadar Zat Besi

Source : Medical News Today

Terdapat beberapa penyebab yang memungkinkan kuranganya kadar zat besi pada ASI, yaitu :

1.      Kehamilan Mama yang menderita anemia (kadar zat besi rendah), hipertensi, atau diabetes;

2.      Kehamilan Mama perokok;

3.      Kelahiran prematur;

4.      Berat bayi di bawah normal;

5.      Pemotongan tali pusat yang terlalu awal;

6.      Memberikan makanan padat untuk bayi pada usia yang terlalu awal;

7.      Memberikan susu sapi pada bayi yang berusia kurang dari setahun;

8.      Kekurangan konsumsi makanan yang mengandung zat besi.

Perlukah Konsumsi Zat Besi Tambahan pada Bayi?

Source : The Dream Baby Cafe

Bayi memerlukan kadar zat besi yang cukup dalam tubuh, tidak kekurangan ataupun kelebihan agar dapat mengalami tumbuh dan berkembang dengan baik. Pada umumnya, konsumsi zat besi tambahan untuk bayi yang berusia kurang dari enam bulan tidak diperlukan, kecuali bayi tersebut menderita anemia. Namun, American Academy of Pediatrics, merekomendasikan  pemberian suplemen zat besi dengan takaran 1 mg/ kg/ hari pada bayi berusia empat bulan yang menerima ASI eksklusif. Pemberian suplemen zat besi ini dapat dilakukan hingga bayi mulai diperkenalkan pada makanan pendamping ASI (MPASI). Suplemen zat besi ini dapat mengembangkan kemampuan kognitif, psikomotorik, dan ketajaman visual si kecil.

Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention, kebutuhan zat besi tambahan untuk bayi dapat dipenuhi melalui pemberian  sereal yang diperkaya zat besi, suplemen zat besi, dan makanan yang kaya zat besi, seperti daging, tahu, atau kacang – kacangan.

Jenis Makanan Kaya Zat Besi

Source : Harvard T. H. Chan School of Public Health 

Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention, terdapat dua jenis zat besi yang umumnya ditemukan pada makanan, yakni zat besi heme dan non-heme. Zat besi heme biasanya ditemukan pada makanan yang bersumber dari hewan dan lebih mudah dicerna oleh tubuh. Contoh makanan yang mengandung zat besi heme adalah daging merah (sapi, kambing, domba), hewan laut (ikan), daging unggas (ayam, bebek, kalkun) , dan telur.

Sedangkan, zat besi non-heme umumnya dapat ditemukan pada makanan yang bersumber dari tumbuhan dan produk zat besi tambahan. Zat besi tipe ini lebih sulit dicerna oleh tubuh dan diperlukan perhatian lebih ketika memberikannya pada bayi. Contoh makanan yang mengandung zat besi non-heme adalah sereal yang diperkaya zat besi, tahu atau tofu, kacang – kacangan, dan sayuran hijau. 

Penggabungan makanan yang mengandung zat besi non-heme dengan makanan kaya vitamin C dapat memudahkan bayi dalam mencerna zat besi yang ia butuhkan. Contoh makanan yang kaya akan vitamin C adalah buah dan sayur, antara lain jeruk, beri, pepaya, tomat, kentang, kubis, brokoli, dan sayuran berwarna hijau gelap.

Efek Kelebihan Zat Besi

Source : NBC News

Kadar zat besi pada ASI yang berlebihan justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan si kecil, antara lain :

1.      Meningkatkan risiko infeksi;

2.      Menghambat laju pertumbuhan;

3.      Menghambat perkembangan sistem saraf;

4.      Gangguan pencernaan;

5.      Kolik pada bayi.

Berdasarkan informasi di atas, penting bagi Mama untuk berkonsultasi dengan tenaga medis mengenai kebutuhan nutrisi bagi bayi, termasuk kandungan zat besinya. Semoga artikel ini dapat membantu Mama dalam menerima informasi terkait zat besi pada ASI, ya!

Writer: Khoirunnisa Purwamita

Editor: Mega Pratidina

Sources :

Iron and the Breastfed Infant – PMC (ncbi.nlm.nih.gov)

Kenali Gejala Bayi Kekurangan Zat Besi (Alodokter)

Do Infants Get Enough Iron from Breast Milk? (cdc.gov)

Iron|Nutrition|CDC

Diagnosis and Prevention of Iron Deficiency and Iron-Deficiency Anemia in Infants and Young Children (0–3 Years of Age) (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.