fbpx

Apakah Mama sering mendengar istilah baby blues syndrome? Baby blues ini umumnya terjadi setelah Mama melahirkan. Syndrome ini membuat penderitanya mengalami perubahan suasana hati, sering menangis, sering cemas, bahkan kesulitan tidur. Namun perlu Mama ketahui, Baby blues bukan satu-satunya gangguan yang berisiko dihadapi Mama usai melahirkan.

Dalam beberapa kasus, Mama juga dapat mengalami bentuk depresi yang lebih parah serta berlangsung lama dan dikenal sebagai depresi pasca persalinan atau postpartum depression. Bila baby blues bertahan hingga lebih dari 2 minggu, ini merupakan awal postpartum depression. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Arimurti et al, Mama berpeluang 5,8 kali untuk mengalami postpartum depression.

Tetapi postpartum depression bisa sembuh dengan penanganan dan pendampingan tepat pada Mama yang mengalaminya. Prosesnya tidak instan, butuh waktu lama, tetapi masih berpeluang besar untuk sehat kembali.

Pengertian Postpartum Depression

Dilansir dari Hello Sehat, Postpartum Depression adalah masalah kesehatan mental setelah melahirkan yang berpengaruh pada perilaku dan kesehatan fisik Mama. Depresi ini dapat muncul sejak masa kehamilan hingga setahun setelah kelahiran si Kecil. Memiliki postpartum depression juga dapat mempengaruhi kemampuan Mama untuk merawat si Kecil, lho, Ma. Mama dianjurkan untuk hidup sehat dengan istirahat yang cukup, mengelola stres dengan baik, memiliki aktivitas yang bermanfaat, bersosialisasi dengan orang-orang yang positif, dan tetap menyediakan waktu bagi diri sendiri untuk mencegah terjadinya postpartum depression.

Faktor dan Gejala Postpartum Depression

Perlu Mama ketahui, kemunculan postpartum depression dipengaruhi beberapa faktor diantaranya:

  • Perubahan fisik.
    Setelah persalinan, terdapat perubahan hormon yang sangat besar dalam tubuh wanita terutama hormon estrogen dan progesteron. Selain itu, hormon yang diproduksi oleh tiroid juga mengalami perubahan sebagai akibat penyesuaian dari perubahan tersebut. Hormon tiroid ini berperan dalam memberikan perubahan mood setelah melahirkan.
  • Permasalahan psikis.
    Memiliki bayi terutama untuk yang pertama kalinya sering menyebabkan Mama menjadi cemas dan tidak percaya diri dengan kemampuannya merawat bayi baru lahir. Perasaan seperti ini yang berkepanjangan dapat menyebabkan Mama mengalami depresi. Selain itu, adaptasi dengan anggota keluarga baru ini, serta momen-momen awal belajar menyusui juga bukan termasuk hal yang mudah. Sehingga memperbesar kemungkinan stres, kurangnya rasa percaya diri Mama, dan berujung pada postpartum  depression.

Gejala postpartum depression tidak berbeda dengan gejala depresi pada umumnya. Hal yang membedakan adalah waktu kemunculannya. Ada beberapa gejala yang perlu mendapat perhatian khusus, yang bisa menandakan adanya postpartum depression, antara lain:

  • Kesulitan tidur
  • Perubahan nafsu makan
  • Merasa bersalah
  • Kecemasan
  • Kesulitan dalam merawat bayi
  • Menangis yang tidak terkontrol untuk jangka waktu yang lama dan tanpa sebab yang jelas
  • Penurunan konsentrasi
  • Pemikiran untuk melukai diri sendiri atau bayi

Cara Mengatasi Postpartum Depression

Penanganan terhadap postpartum depression dapat dilakukan melalui psikoterapi atau menggunakan obat-obatan, atau bahkan keduanya.

  • Psikoterapi. Terapi ini melatih cara pikiran, perasaan, dan perilaku bekerja sama dalam diri seseorang. Terapi ini juga melatih kemampuan penting, seperti menyelesaikan masalah, berpikir realistis, menangani stres, relaksasi, cara mengelola hubungan dengan orang lain dan mendorong seseorang untuk mampu beradaptasi dengan peran barunya (dalam hal ini sebagai orang tua baru).
  • Obat antidepresan. Obat-obatan antidepresan dapat diberikan oleh dokter jika dibutuhkan. Meskipun dapat masuk dalam ASI, obat antidepresan kebanyakan tidak menimbulkan efek samping bagi si kecil, kok, Ma.
  • Adanya dukungan dari lingkungan sekitar atau dari orang lain dengan keluhan serupa melalui support group akan sangat membantu Mama mengatasi rasa depresinya. Utamanya dukungan dari orang terdekat seperti Papa, orang tua dan atau mertua.

Bagaimna jika Mama mengalami postpartum depression? 

Be strong, hang in there, Ma..

Ini tidak menjadikan Mama sebagai Ibu yang buruk. Justru, Mama perlu dibantu. Mintalah bantuan pada orang terdekat untuk menyelesaikan pekerjaan rumah atau menangani si kecil. Temui dokter atau psikolog jika Mama merasa mengalami depresi pasca persalinan. Semakin cepat ditangani, semakin cepat pula Mama kembali bahagia.

Mama yang bahagia, membesarkan anak-anak yang bahagia juga. Perjalanan menjadi Ibu ini tidak mulus, namun yakinlah bahwa cinta Mama berarti besar bagi si kecil. Semangat terus menjalani peran ini, Ma.

Gabung, yuk, dengan komunitas MamaBear Family melali instagram @mamabearid. Daparkan juga info dan tips seputar ASI dan menyusui disana.

Penulis: Dinda Aisya

Editor: Mega Pratidina

Source:

Arimurti et al. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Depresi Postpartum di Kabupaten Bogor Tahun 2019. Muhammadiyah Public Health Journal.4(2), 29-37. 2020;4(2):29–37. [https://jurnal.umj.ac.id/index.php/MPHJ/article/download/7019/4509]

Ghaedrahmati M, Kazemi A, Kheirabadi G, Ebrahimi A, Bahrami M. Postpartum depression risk factors: A narrative review. J. Educ. Health Promot. 2017;6:60. [https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28852652]

https://hellosehat.com/kehamilan/perawatan-ibu/kesehatan-mental-ibu/mengenal-gejala-depresi-postpartum-usai-melahirkan/