fbpx

Trauma merupakan kejadian yang menakutkan dan menyeramkan. Ada banyak penyebab trauma pada anak seperti kejadian yang tidak menyenangkan, kecelakaan, hingga kematian seseorang yang disayangi. Berbeda dengan orang dewasa, anak cenderung tidak bisa mengekspresikan emosi mereka sehingga trauma pada anak sulit untuk dideteksi. Namun, ada beberapa penyebab dan tanda trauma pada anak yang bisa Mama kenali untuk penanganan dini terhadap trauma Si Kecil.

Penyebab Trauma Pada Anak

Penyebab trauma pada anak sangat variatif karena kondisi setiap anak yang berbeda. Dilansir dari Blue Knot, ada 3 penyebab utama terjadinya trauma yaitu sebagai berikut.

  1. Disebabkan oleh orang lain yang membahayakan Si Kecil

Anak-anak berada pada masa eksplorasi yang nantinya akan menjadi hasil dari pengalaman mereka akan menjadi pondasi ketika mereka sudah besar. Namun, jika Si Kecil mengalami pengalaman buruk karena orang lain seperti pelecehan seksual, kekerasan verbal dan fisik, serta eksploitasi anak, maka anak akan mengingat kejadian tersebut yang dianggap sebagai ancaman. Sebagai hasilnya, otak akan merespon dengan memberikan bentuk perlindungan diri berupa rasa trauma. Sehingga anak tidak mau mengambil risiko agar dirinya tetap aman. 

  1. Trauma Orang Tua

Ketika orang tua tidak mampu untuk mengelola rasa trauma yang mereka miliki, hal ini bisa mempengaruhi kondisi mental Si Kecil. Ini berkaitan karena orang tua dengan trauma yang belum selesai tidak mampu memenuhi kebutuhan emosional Si Kecil dalam bentuk kekerasan verbal, kekerasan fisik, dan kurang perhatian. Hal ini bisa terjadi ketika:

  • Orang tua atau wali memiliki penyakit mental atau penyakit kronis;
  • Orang tua memiliki inner child yang belum terobati;
  • Mengalami kecelakaan yang serius;
  • Mengkonsumsi obat-obatan terlarang;
  • Perceraian dan kematian.
  1. Anak yang tidak mendapatkan perlindungan dan perhatian

Anak-anak masih membutuhkan perlindungan orang dewasa. Namun, bagi anak-anak yang tidak mendapatkan perlindungan atau perhatian dari orang dewasa, mereka cenderung memiliki rasa trauma karena tidak memiliki tempat untuk berlindung. Biasanya hal ini terjadi pada anak-anak yang mengalami kondisi kemiskinan ataupun diskriminasi.

Tanda Trauma Pada Anak

  1. Rasa sedih berlebihan

Tanda pertama trauma pada anak yaitu ketika Si Kecil mengalami rasa sedih yang tidak bisa dikontrol sehingga selalu menangis. Biasanya, Si Kecil akan menangis dengan kencang ketika berada dalam kondisi yang mirip dengan peristiwa yang membuat Si Kecil trauma. 

  1. Rasa takut berlebihan

Trauma pada anak menghasilkan kekhawatiran pada anak sehingga Si Kecil menjadi takut terhadap banyak hal. Si Kecil bisa saja takut pada hal-hal baru bahkan hal yang ia sukai sebelumnya karena peristiwa traumatis yang ia alami. Rasa takut ini bisa juga diiringi dengan sesak nafas, hilang fokus, dan menangis.

  1. Kehilangan minat dalam aktivitas biasa

Jika Si Kecil yang periang tiba-tiba menjadi murung pada aktivitas sehari-hari, bisa jadi itu merupakan tanda trauma pada anak. Rasa takut dan sedih yang Si Kecil alami membuatnya tidak memiliki motivasi untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

  1. Tantrum dan marah tidak terkontrol

Tanda berikutnya adalah adanya masalah emosi seperti tantrum dan marah yang tidak terkontrol. Ini merupakan perlindungan diri Si Kecil untuk melindungi dirinya dari hal yang membuatnya mengingat kejadian traumatis.

  1. Gangguan tidur

Gangguan tidur pun terjadi pada anak yang memiliki trauma. Trauma pada anak membuatnya terus mengingat kejadian traumatis tersebut sehingga Si Kecil tidak bisa tidur dengan tenang seperti sebelumnya. Gangguan tidur pun bisa berupa mimpi buruk yang berulang.

  1. Performa sekolah yang menurun

Trauma juga bisa mengakibatkan Si Kecil tidak fokus di sekolah yang berujung pada penurunan nilai atau performa di sekolah.

Lakukan Hal Ini Ketika Si Kecil Mengalami Trauma

  1. Kenali Tanda Trauma Pada Anak

Ketika anak memiliki trauma, ia akan menunjukkan tanda-tanda baik dari fisik, emosi, maupun kebiasaannya. Oleh sebab itu, sebagai orang tua, Mama perlu untuk segera mengenali tanda-tanda tersebut.

  1. Dengarkan Cerita Anak

Ketika anak bercerita tentang traumanya, cobalah untuk mendengarkannya terlebih dahulu. Reaksi dari orang tua akan menjadi sangat penting bagi anak dan berpengaruh pada proses perawatan traumanya. Hindari menggunakan nada tinggi atau hukuman ketika Si Kecil bercerita kepada Mama tentang traumanya. 

  1. Validasi Emosi Anak dan Berikan Dukungan

Jika Mama sudah mengerti emosi yang dirasakan Si Kecil, cobalah untuk memvalidasi emosi yang ia rasakan dan memberikan dukungan dengan memberikan kata-kata positif untuk memberikan semangat kepada Si Kecil. Tidak hanya itu, Si Kecil akan merasa bahwa ia terlindungi dan mendapatkan cukup perhatian dari orang tuanya.

  1. Bantu Anak untuk Rileks

Ketika berbicara tentang traumanya, kemungkinan Si Kecil tantrum atau tidak bisa mengekspresikan emosinya dengan baik sangatlah tinggi. Oleh sebab itu, Mama perlu untuk membantu Si Kecil agar rileks dengan mendengarkan musik, mengontrol pernapasan, ataupun kata-kata positif seperti “kita sudah aman sekarang”.

  1. Sabar dan Konsisten

Dalam menghadapi trauma pada anak, orang tua perlu sabar dan konsisten karena proses perawatannya berlangsung secara bertahap. Mama dan Papa bisa merencanakan cara-cara untuk mendapatkan kepercayaan diri Si Kecil kembali secara matang.

Kapan Harus Konsultasi Ke Dokter?

Ketika Mama menemukan tanda trauma pada anak, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter agar Si Kecil bisa mendapatkan terapi dan pengobatan untuk menghilangkan traumanya. Berkonsultasi dengan dokter mampu untuk mencegah trauma ini berlanjut sampai Si Kecil dewasa. Tidak hanya itu, dengan mendapatkan bantuan professional, Si Kecil bisa mendapatkan rasa percaya diri dan menghilangkan kekhawatirannya tentang peristiwa traumatis yang ia alami.

Sebagai orang tua, tentu Mama pasti ingin melindungi Si Kecil dari hal yang berbahaya baginya. Semoga dengan informasi ini bisa membantu Mama mengenali penyebab dan tanda trauma pada anak untuk mencegah trauma pada Si Kecil, ya, Ma.

Writer: Wendy Belinda

Editor: Mega Pratidina

Referensi:

About Child Trauma | The National Child Traumatic Stress Network (nctsn.org)

Children and Trauma: Update for Mental Health Professionals (apa.org)

The Effects of Childhood Trauma (verywellmind.com)

What Is Child Trauma? | Center for Child Trauma Assessment and Service Planning (northwestern.edu)

What is Childhood Trauma? (blueknot.org.au)

About Child Trauma | The National Child Traumatic Stress Network (nctsn.org)

Helping children & teens after a traumatic experience | Phoenix Australia

Early Childhood Trauma | The National Child Traumatic Stress Network (nctsn.org)

Parenting a Child Who Has Experienced Trauma (childwelfare.gov)

Helping Your Child Heal After Trauma (for Parents) – Nemours KidsHealth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.